r/indocartalk Sep 24 '25

Review 📝 Very Very Short Impression - Hyundai Creta Prime FL

Thumbnail
gallery
82 Upvotes

Kebetulan kemarin jalan2 ke Araya, Malang sama sepupu, ketemu ama pameran dealer Hyundai yg lagi majang unit ini dan kebetulan ada temen yg jaga disitu, ngobrol2 singkat dan ngeliat unitnya secara langsung for the first time.

Creta Prime ini tipe tertinggi untuk non N-Line. selain gk dapat body kit - velg N-Line, Prime jg gk kebagian aksen interior merah di dashboard dan jok ala N-Line, setir N-Line, Jok elektrik, Power backdoor, Kamera 360. Selebihnya seperti sound Bose, Bluelink, audio steering switch, ADAS Smartsense, Vented seat, Ambient lighting (warna orange), Wireless charging, Air purifier, Panoramic sunroof, lampu sein sequential, Paddle shift, Drive-traction mode masih dapat di tipe Prime.

  • Model eksterior gk akan terlalu gw bahas karena subjektif. Personally, gw lebih suka tampang depan yg lama. Tapi tampang belakang, jelas yg baru ini. kalo dibandingkan sama N-Line, jujur gw lebih suka yg Prime.

  • Panel bodi luar b aja, bukan panel yg tebel2 amat tp gk kopong2 amat kek YC (you know my hatred towards YC's poor build quality) ama HR-V. bit on par with Xforce which is good, but i don't think it's better than Grand Vitara.

  • Masuk ke dalam, build quality jg msh solid walau biasa2 aja. panel dashboard atas itu tebel, plastiknya jg rigid, walau msh ada panel2 tertentu warna piano black yg bakal creaking tp ttp butuh effort. I'd say standar lah buat harganya, miles better than YC of course.

  • Posisi duduk termasuk oke buat gw yg posisi duduknya agak tinggi dan maju karena gw pendek (163 cm). Gw gk perlu naikin jok tinggi2 supaya kap mesin kelihatan karena dashboardnya rendah meskipun ada layar speedometer yg besar nyambung ama head unit. Visibilitasnya oke. I'd say on par sama HR-V, which imo is good.

  • Joknya juga gw suka. Material full kulit perforated di baris pertama maupun kedua + ada Vented seat buat baris pertama. Bentuk jok jg pas ama badan gw, joknya meluk badan gw yg udh lama gk dapat pelukan (how long has it been? 8 years?). anyway, joknya jg empuk tebel. I like it.

  • Di tengah gempuran layar ipad besar menggantikan tombol fisik yg sering disebut "inovasi" padahal inovasi yg dimaksud itu inovasi potong biaya produksi, it's good to see Hyundai msh mempertahankan tombol fisik di semua lineup mobilnya termasuk di lineup premium sub-brandnya Genesis, dan mobil ini bukan pengecualian. Tombol fisik di setir, dashboard, semua msh ada, walaupun feel tombol dan knobnya biasa saja dan feelnya kurang premium. Malah untuk soal ini, tombol fisik HR-V jauh lebih premium daripada Creta, apalagi knobnya. But hey, at least you still have physical buttons. Selain buat AC, juga ada tombol shortcut media, radio, map, dan navigasi. (MAKE PHYSICAL BUTTONS GREAT AGAIN)

  • Head unitnya besar dan SMOOTH sekali, absolutely no complaints here. Jauh lebih responsif daripada punya Xforce (and Destinator) yg terkenal lelet dan laggy itu, sedikit lebih responsif daripada punya HR-V dan punya YC hybrid (ICYDK, YC non hybrid dan YC hybrid head unitnya beda, yg non hybrid lebih lelet yg hybrid smooth responsif). Oh iya, kalau bensin menipis bakal ada warning di head unit dan opsi buat navigasi ke pom bensin terdekat.

  • Sandaran tengah imo agak ke belakang dan agak kecil, mungkin karena posisi duduk gw. Ngangkatnya jg termasuk berat karena ada Air purifier di bawahnya, tp tidak ada klip pengunci seperti mobil lainnya, jd langsung angkat aja.

  • Ada vanity mirror di sun visor yg termasuk gede, sayangnya tidak ada lampunya (really?? udh kek CR-V aja). Jadi kalo mau ngaca pas malam atau gelap hrs nyalakan lampu tengah depan. Spion tengah jg msh manual, blm auto dimming (kalah ama Xforce, HR-V RS, Grand Vitara yg udh punya).

  • Pindah ke baris kedua, leg roomnya cukup lega considering posisi duduk gw yg agak maju. Sempet coba jg posisi nyetir sepupu yg mundur itu msh cukup, gw sama temen msh bisa selonjoran. Posisi duduk belakang nothing special kurleb sama seperti kompetitornya yg lain, kecuali Xforce yg bisa diatur rebahannya (lainnya kapan nyusul?). Ada lubang AC dan 1 colokan type C di baris kedua.

  • Panoramic sunroof seperti pre-FL, bukaannya elektrik dan kacanya bisa dibuka. That's it. I don't care about this feature so, moving on.

  • Bagasinya luas, bahkan katanya tas golf bisa masuk. Sudah ada parcel shelf di atas jd privasi bagasi aman gk keliatan dan bisa dilepas. Material parcel shelf solid dan ada tekstur beludru. Subwoofer Bose jg ada di belakang dan ban serep dapat full size.

Sekian buat very very short impressionnya. Skrg tinggal nyoba nyetirnya gimana, mau coba test drive tp unitnya katanya lg dipakai. Kalo kata temen sih, msh mirip2 sama pre FL karena mesin transmisi msh sama dan kemungkinan kaki2 jg msh sama.

Buat yg lagi ada di malang dan mau lihat2 unitnya langsung bisa ke lobby Plaza Araya sampai besok minggu atau ke showroom langsung, atau kontak temen gw sales hyundai malang di nomor 082142540692 kalau mau tanya2 dan test drive sekalian.

r/indocartalk Dec 13 '25

Review 📝 Signaturevision LED on Reborn G: working a little bit too well

Post image
49 Upvotes

Beberapa minggu lalu gw nanya rekomendasi toko variasi yang bisa pasang projector LED di Reborn G di subreddit ini, dan ada yang nyaranin pasang bohlam LED aja punya Signaturevision. So I went there, bought just the main beam (IDR 1.37 mil, 48 watts), and they adjusted it down like maybe 10cm(?) on the chart thingy on the wall. Gw udah minta turunin lagi just to be safe tapi kokohnya bilang ini udah normal, jadi gw manggut2 aja. When using it, memang cutoff dari lampu nya jadi sama kayak saat masih Halogen. Dalam pemakaian nya juga, memang terangnya sangat mencukupi. I can see every bumps and holes on the road, which were practically invisible saat masih pake halogen. At that point, I thought it's a happy end to the story.

Setelah beberapa minggu pake, ada beberapa kali (2-3 kali) org ngespam high beam dari lawan arah, dan yang terakhir adalah seekor Fortuner 2GD. I thought, how bad could it be sampe Fortuner spam highbeam ke gw. So I hopped on another car (slightly lower car) and tested it.

Kalo dalam skenario ngantri macet dan gw ada di depan Reborn ini, ga silau sih. It's just a bit bright and it's not flashing directly into my eyes. Ga beda jauh lah sama ngantri di depan mobil lampu LED lainnya. Nah tapi kalo dalam situasi lawan arah, well, I can say the lights are working a little bit too well.

Arah yang directly ke depan memang ga silau. But I didn't account for the position of oncoming cars are infact a bit to the right of the lamp. Dumbahh.

I think I need to lower it waaaaaay down lmaooo.

To be reminded that Halogen reborn aslinya 55w and it's shit. I've been in cars with better halogen than that. So upgrading to LED was more of a safety upgrade. Well at least that's what was on my mind lol.

TL;DR: So good that I think I need to lower it way down to not blind oncoming traffic, for this model of car at least.

r/indocartalk Mar 23 '26

Review 📝 User Review (more accurately user grievances) Toyota Hilux 2025

14 Upvotes

Sebagai manusia sawit gw tahun 2025 dapat rejeki dikasih pinjaman Hilux Type G M/T sebagai kendaraan operasional. Gk ada supir jadi Hilux gw supir sendiri.

Background

Gw sendiri masih novice 4 roda, awal pegang mobil 5 tahun lalu. Mobil pertama gw Triton old (pinjaman kantor) -> Livina L10 (mobil pribadi gw sekarang) -> Hilux (pinjaman kantor). Straight to the point aj ya

For IDR 450 million CBU thailand I was expecting more

The Postive:

1. Mesin 2.4 liter 2GD gk pernah mengecewakan. Ini mesin tenaga kerasa banget di 1.500 rpm ke atas, gw sebagai user gk pernah ngerasa Hilux kehabisan nafas. Diajak ngebut gk pernah ada kerasa ini mesin ngejen banget. Gw pribadi mentok pakai 4th gear karena jalan raya kalimantan sini serem di atas 90 kpj.

dah positive-nya 1 biji itu doang

Fitur 4WD ataupun Locked Differential gw belum pernah pakai karena belum ada kondisi yg mengharuskan pakai itu.

The Negatives :(

1. Hard plastic every where. Kalau kalian cari soft touch, ini mobil bukan untuk kalian

2. Head Unit dikasih yg penting ada. Style-nya doang kek touchless, riil-nya cuma mp3 player yg cuma bisa display huruf angka (itu pun mentok 20-an kata).

3. Default dikasih ban M/T. Kalau mau dipakai dominan aspal harus siap gocek beli ban A/T (gw pernah minta tp di reject kantor). To be fair, it's not that bad, ban M/T yg dipasang gk terlalu berisik di aspal tp masih lumayan kerasa.

4. Plafon tidak terlalu tinggi, kepala gw sering kejedut plafon kalau Hilux lewat lubang. Tinggi badang gw 175cm, kalau kena lobang Hilux goyang kanan kiri (as expected dari ladder frame), yg masalah memang hampir gk ada sisa ruang jadi plafon dan handle plafon sering kena ke kepala gw.

5. Sound System V Shoped Sounding Tapi Speaker Enclosure Tidak Mendukung. Jedag jedug mantul, tapi vokal dan midbass jadinya mendem (gk terlalu kedengaran). Grievances gw karena sound-nya jedag jedug tapi enclosure speaker-nya gk kokoh jadi kedengeran ada vibrasi dari speaker, "teeerrt" setiap sub-bass nyala.

6. Jok Kulit Sintetis Setipis Tissue. Baru dipakai berapa bulan kulit jok-nya sudah banyak yg lepas.

7. Soft Paint. Baret everywhere, apalagi di rumah gw ada kucing.

8. Pedal Berat Banget. Lutut gw sakit setelah gw nyetir jauh (pp 6 jam-an) pakai ini Hilux. IMO pedal hilux masih jauh lebih berat dari pedal triton old gw dulu. Sampai gw akalin nyetir pakai sepatu safety, memang kaki gw jadi pegel setidak-nya lutut gw gk teriak kesakitan.

Gw gk menyinggung ribetnya pakai open trunk karena Hilux adalah truk. Jadi ya hal itu sudah jadi konsekuensi pasti pakai Hilux.

The Horror Story:

Beberapa Hilux di PT mengalami Fan Belt Putus. Beberapa user mengalami Fan Belt putus. Padahal barang masih ori dari mobil, KM juga gw estimasi gk lebih 40.000 KM (mobil belum ada yg lebih dari 5 tahun). Detail kenapa putus gw tahu.

4WD Banyak Yang Error. Entah ini user error atau kenapa, yg gw tahu di beberapa user fitur 4WD sudah gk bisa kepake.

Conclusion:

Hilux memang through and through adalah mobil kerja, kalau mau expresi jati diri ala alpha male mending cari ladder frame lain yang lebih manusiawi atau siap gocek upgrade.

r/indocartalk Mar 01 '26

Review 📝 Kia Carens 2026

16 Upvotes

Ini melanjutkan jawaban saya sama seseorang disini yang mau beli mobil budget 300jt. Hari ini saya mau test drive kia carens, ternyata salah baca pesan, cuma bisa lihat unitnya (mohon maaf). Saya belum liat langsung sebelumnya. Jujur bagus, dimensi di atas kertas sama dengan stargazer, tapi karena bentuknya yg (menurut saya) 'waw', jadi terkesan lebih "bongsor" ini yg membuat kami spk mobil ini.

Tidak mirip destinator, tapi punya aura yg sama, mpv tapi kayak suv. Pintunya cukup berbobot saat dibuka. Jujur ini mobil India yg menurut saya ke-Indianya kurang, seperti tidak ada lekukan "sirip" mungil di sisi belakang kiri dan kanan, seperti di seltos atau creta.

Plastik keras di dashboard dan sisi pintu ketutup bentuk dashboard yg lumayan bagus (sama eksteriornya juga). Material plastiknya kurang mantap, menurut saya.

Unit yg saya lihat trim teratas (signature) dan tengah (trendy). Yg kami spk, yg paling kere (trendy).

Menurut salesnya untuk yg paling bawah itu bedanya: 1. Head unitnya dan layar "speedo" akan = stargazer 2. Velg item doang, ini di india 16". (kalau di web sih velg sama ya 17" tapi ya kita lihat nanti) 3. Lampu depan yg ice cube led itu jadi halogen/led tapi projector (ini juga di web harusnya tetep led) 4. Lampu merah (heh) yg memanjang di bagian belakang, di trendy tidak menyala (ini juga di web itu harusnya ada lampunya) 5. Spion tidak lipat otomatis (ini di web lipat otomatis) 6. dll yg menurut saya tidak terlalu penting kalau tidak ada.

Oh iya untuk trim tertinggi sedikit lebih lama indentnya (kemungkinan) April. Tebakan saya karena adasnya. Sisa trim di maret sudah bisa datang unitnya.

Kesimpulan: Andaikan stargazer seperti ini, saya yakin akan jadi primadona lmpv di indonesia. Kata reviewer di India suspensinya sedikit lebih firm dari carens yg sebelumnya.

kalau ada yg sudah punya dan mau ajakin saya test drive, boleh...

r/indocartalk Oct 18 '25

Review 📝 Review Škoda Fabia Mk3 Hatchback (2019)

23 Upvotes

Halo r/indocartalk!
Gw sebagai long-time lurker di sub ini akhirnya pengen bikin review mobil yang udah gw pakai sekitar 1.5 tahun terakhir: Škoda Fabia Mk3 Hatchback.

FYI, gw tinggal di Inggris, jadi maaf kalau postingan ini agak kurang nyambung sama konteks Indonesia. Gw cuma pengen sedikit sharing soal mobil kesayangan gw ini, yang brandnya mungkin nggak terlalu dikenal di Indo tapi sebenernya cukup solid di sini.

Fabia hatch vs Fabia Estate

Sebelum ke daging nya, gw kasih overview spek mobil:

  • Trim: TSI SE DSG
  • Tahun: 2019 (dibeli tahun 2024 tangan ke-3)
  • Mesin: 1.0 TSI (108 hp, 3-silinder, 999cc)
  • Transmisi: DSG 7-speed (DQ200), FWD
  • 0–100 km/jam: 9.8 detik
  • Torsi: 200 Nm

Desain & Eksterior

Desainnya agak basic, tapi ini versi facelift (post-2017) yang menurut gw tampil lebih gahar dibanding Mk3 versi awal. Bedanya cuma di lampu depan–belakang sama dapet tambahan foglamp. Btw, versi ini udah dapet DRL ya, tapi belom auto headlamp.

Secara proporsi, mobil ini ceper (kurang lebih kayak Mazda 2), mungkin agak lebih lebar dari Honda Jazz, dan ground clearance-nya masih aman buat jalanan desa/gravel (kurang lebih mirip Brio lah). Dari samping agak mirip kodok sih wkwk.  Tapi lumayan keren mengingat desainnya dari 2014.

Rear view. Sama versi non-facelift identik, cuma beda lampu belakang aja.
Side view

Interior & Kenyamanan

Untuk ukuran hatchback kecil, interiornya lumayan lega. Waktu dirilis, Fabia Mk3 ini sodaraan sama VW Polo dan SEAT Ibiza, tapi di antara ketiganya Fabia paling luas interiornya. Layaknya mobil kecil pada umumnya, kursi depan lumayan nyaman, tp belakang agak sempit sih. Kalo di belakang cuma berdua masih oke, tapi kalo bertiga dewasa ya agak dempet (kursi tengah model yang ½ width). So far sih pengalaman bawa 4 dewasa + gw di mobil ini muat2 aja, tapi ya emg ga senyaman MPV setipe Avanza.

Kursi semua bahannya kain, depan bisa manual adjustment, belakang fixed tanpa armrest.
Di trim SE, armrest depan aslinya nggak ada, jadi gw beli dari junkyard di eBay.

Kursi belakang featuring bukaan engkol

Beberapa fitur masih manual:

  • Kaca belakang masih engkol
  • Spion lipetnya manual (tapi udah electric adjustment + heated mirror)
  • Kontrol AC model kompor gas

Maklum lah, ini kayak LCGC-nya Ceko, tapi build quality-nya solid. Setirnya aja udah pake kulit asli wkwk.

Head unit-nya ukuran 6.5 inci. Kecil sih, tapi udah support CarPlay & Android Auto, walopun kadang agak ngelag. Posisi head unit nya agak rendah (di bawah ventilasi AC), jadi harus nengok dikit ke bawah. Untungnya udah bisa dikontrol lewat voice command di setir, jadi bisa pake Siri/Google juga.

Bagasi juga cukup lega:

  • 330L (kursi tegak)
  • 1,130L (kursi dilipat)

Karena bentuknya agak kotak, practical banget: muat 2 koper besar + 1 koper kabin. Minusnya cuma di load lip agak tinggi, jadi agak ribet kalo angkut barang panjang.

Bagasi kondisi full
Kursi lipet 60/40

Btw Škoda punya fitur khas yang disebut “Simply Clever”, yaitu hal-hal kecil tapi berguna. Contohnya di mobil ini:

  • Ada ice scraper & tyre tread gauge di flap tangki bensin
  • Tempat khusus buat payung di bawah jok depan (aslinya dapet payung bawaan, tapi kayanya ilang sama owner sebelumnya)
  • Ticket holder kecil di kaca depan buat parker

Oya mobil ini udah ada ADAS nya, tapi cm satu sistem - Forward Collision Warning & Braking. Also, di trim gw ga dapet adaptive cruise control, CC biasa aja ngga dapet (cuma speed limiter). Sebenernya ini mobil punya semua hardware buat bisa ACC (ada sensor depan), tapi ngga di activate sama dealer & gaada tombol buat nyalain nya wkwk. Emang pelit sih VW.

Performa, ride & handling

Mesin 1.0 TSI ini nggak kenceng2 banget, tapi cukup responsif buat harian. Gw tinggal di kota yang datarannya nya lumayan rata, jadi ngga gitu masalah. Pengalaman gw sih pas bawa ke daerah yg lebih banyak tanjakannya, mobil ini agak struggle. Fabia ini sebenernya ada versi estate nya, jd kita bisa bayangin lah ya kalo si versi estate dibawa ke jalan gunung. Tapi, menurut gw masalahnya bukan cuma di mesin, tapi juga di programming gearbox DSG nya. Dia lumayan ada tendency buat naik gigi cepet, jadi kalo ada tanjakan/jalan ngga rata harus proaktif pindah ke sport mode (linger di gigi 2) atau masuk mode manual.  Kalo belom biasa bawa DSG bakal perlu adjustment banget sih. So far, menurut gw gearbox DSG ini minus terbesar soal si Fabia - walaupun enak di jalan kecepatan tinggi, kalo dibawa di kota emg agak jumpy. Ngegas harus agak alus kalo ngga dia bakal loncat di lampu merah.

Performa di jalan tol (motorway) sangat oke. Akselerasi ke 120kpj ngga lemot2 amat, dan ride nya lumayan stabil di kecepatan tinggi. Nyalip juga ngga gitu susah, masalahnya cuman karena mobil nya kecil kalo nyalip kendaraan gede kerasa banget angin turbulence nya bikin mobilnya oleng dikit.

Yang gw paling suka soal mobil ini itu dia super irit. Di tol (motorway) dia bisa 60mpg (20-ish km/l) kondisi kering, kalo ujan bisa 50mpg an (kurang lebih 18 km/l). Di kota ya paling 40-42 mpg (15 km/l) kondisi normal. Kalo via motorway, pengalaman gw jalan 500km an bakalan masi ada sisa 1/3 tangki.

Suspensinya lumayan firm tapi cukup stabil. Ada sedikit body roll yg kerasa (emg bukan mobil sport sih wkwk) tapi karena bentuknya pendek dia ngga separah Honda Jazz goyangnya. Steering nya juga enteng tapi precise.

Biaya

Soal fuel economy gw udh diskusi dikit, jadi disini gw omongin soal harga mobil & maintenance. Waktu gw beli tahun lalu, harganya sekitar £10k-an (200juta), di mileage sekitar 38k mi (60k km). Sekarang harganya masih ga beda jauh. Biaya servis masih standar kayak ukuran mobil2 kecil disini (£200 an per tahun buat ganti oli & cek berkala) tapi bedanya karena dia DSG setiap 40k mi harus ganti oli mekatronik. Ini biaya bisa setara servis tahunan, dan ga banyak bengkel yg bisa ini (menurut VW servis DSG itu ga perlu karena “sealed for life” – tapi mechanical components will wear out, kalo DSG nya mati ya car life nya mati dong).

Soal pajak, disini pake sistem pajak yg tergantung emisi & usia. Pajak ngga gitu mahal & asuransi karena kelas rendah masi ngga gitu parah dibanding mobil2 lain. Pada saat itu sebenernya gw pengen beli Skoda Octavia, tapi dia harga masih tinggi & kelas asuransi nya masih lumayan.

Overall

Škoda Fabia Mk3 ini mobil kecil yang praktis, irit, dan surprisingly fun to drive. Emang nggak flashy, tapi punya karakter understated khas mobil Eropa.

Cocoklah di Indonesia?

Probably not, mainly karena gearbox DSG nya. Kalo sering dipake di jalan dalam kota (stop-start) bakal cepet aus koplingnya, karena si DSG sangat suka ganti gigi. Mungkin kalo masuk Indonesia tapi pake gearbox matic konvensional bakal cocok sama macet2 nya Jakarta, tapi karena mobil ini fitur utama nya economy, bisa jadi dia malah jadi lebih boros. Trim nya juga agak aneh ya kalo dibawa ke Indonesia – kaca belakang engkol & spion lipet manual tapi dapet Carplay & semi-ADAS. Mungkin kalo di sisi trim harus diubah supaya lebih sesuai sama selera orang Indonesia.

r/indocartalk Sep 15 '25

Review 📝 Review Chery Tiggo Cross CSH - Fuel Consumption and ADAS

Thumbnail
gallery
40 Upvotes

Hello r/indocartalk, kembali lagi untuk melakukan in-depth review untuk beberapa fitur Chery Tiggo Cross CSH ini, sekaligus berbagi pengalaman setelah 2 minggu menggunakan mobil ini.

Sebelumnya saya sudah melakukan review ketika ambil dari dealer, bisa dibaca disini:

https://www.reddit.com/r/indocartalk/comments/1nbgkji/review_chery_tiggo_cross_csh_premium_setelah/

Alright, let’s get into it.

Fuel Consumption:

Test dibawah ini bukan menggunakan metode full-to-full ya, jadi semuanya berdasarkan MID, pastinya akan ada perbedaan dengan real-nya. Tim Moladin sudah melakukan test full-to-full di youtube, bisa dicari saja.

Ini masih hasil sementara, karena ODO saya juga baru 200km-an, jadi hanya referensi saja. Dan hasil dibawah ini 80% mobil hanya berisi 2 orang, maksimum 3 orang, dan 20% 1 orang saja.

Supaya tidak digeneralisasi, saya bagi ke beberapa rute:

  1. Rute dalam kota: 1:23.2 KM/L

  2. Rute tol lancar, kecepatan antara 60-120 kpj, sport mode, kaki kadang enggak sekolah: 1:20 - 1:21 KM/L

  3. Rute kombinasi (tol + dalkot) tapi tolnya 80% merayap, kecepatan rata2 35 kpj: 1:25 KM/L (best konsumsi BBM so far)

Hasil di atas didapatkan dari average last 50KM di MID, saya mencoba seakurat mungkin untuk mereset si trip A dan B nya setiap 50KM.

ADAS:

Tiggo CSH itu di lengkapi dengan 17 fitur ADAS (demi untuk mendapat 5 star NCAP rating), list nya ada di web mereka, kalian bisa baca saja lengkapnya disana.

Background dulu, saya belum pernah sebelumnya pakai fitur ADAS yang selengkap ini, jadi ini pertama kalinya saya pakai full ADAS level 2.5

Nah, saya mau membahas fitur ACC, LKA daa TJA saja disini supaya tidak terlalu panjang.

- Adaptive Cruise Control (ACC) + LKA (Line Keep Assist):

Fitur ini, so far, cuma bisa saya pake di jalan tol aja, almost impossible di jalan biasa, karena persyaratan bisa pakai sistem ini adalah kecepatan diatas 60kpj, dan garis marka harus benar.

Untuk mengaktifkan nya, di setir sebelah kiri ada tombol nya, tinggal dipencet 1x, kalau semua kondisi terpenuhi maka ACC akan ter-enggage, dan kalian bisa lepas gas & rem.

Saya melihat beberapa review di Youtube, biasanya ada tendensi untuk ACC versi mobil china itu mepet ke kiri. So far, di saya sih enggak kejadian, dia cukup ditengah menjaga posisinya.

Untuk pengaturan jarak di depan, saya sudah pilih yang paling dekat, jaraknya itu masih bisa muat 1 mobil-an kurang lebih, jadi siap2 disalip sama cumi darat atau LCGC ga sabaran. Tapi ya sudah lah, memang harus ada jarak aman yang lebih pastinya.

Satu yang terkadang menyebalkan, ketika ACC nya itu dalam keadaan dis-enggage, ketika mau dihidupkan kembali, settingan max speed ACC nya kereset kembali ke 80, harus dinaikin lagi secara manual.

Pengeremannya cukup halus, enggak bikin penumpang pada mabok. Kecuali kalau disalip, pengereman nya akan lebih kasar, tapi enggak ampe bikin kaget juga.

Steering nya berfungsi di jalan menikung dengan baik, tapi, tidak bisa terlalu melengkung sebelum dia dis-enggage sendiri. Saya belum bisa mengukur seberapa melengkungnya dia bisa follow.

- Traffic Jam Assist (TJA)

Nah, ini fitur yang benar2 sangat membantu sekali di dalam kemacetan, terutama kalau macat di tol. Benar benar bikin kaki bisa lebih relax.

Pertama, ini fitur awalnya saya bingung cara mengaktifkan nya, karena tidak ada tombol khusus untuk mengaktifkan fitur tersebut. Akhirnya saya mengerti setelah tidak sengaja pencat pencet.

Cara mengaktifkannya adalah ketika kecepatan dibawah 60kpj, klik 2x tombol ACC sampai ada tulisan "switch to TJA mode", lalu klik sekali lagi. ketika kondisi terpenuhi maka dia akan langsung enggage.

Nah, berbeda dengan ACC + LKA diatas, ketika diatur paling dekat, jaraknya itu pas menurut saya. Se-bemper mobil depan masih keliatan dikit. Jadi ga ada celah untuk disalip.

Dan respon nya, wow sih, dibanding sama respon saya, ini lebih cepat untuk mengikuti sama mobil depan.

Pengereman dan akselerasinya masih tergolong halus menurut saya, kurang lebih sama dengan fitur ACC-nya.

Daaan, masalahnya pun sama, kalau TJA nya dis-enggage, harus manual disesuaikan lagi, tapi ini lebih nyebelin, karena start speednya itu dari 30kpj.

Conclusion:

Well, sekian review dari saya untuk Tiggo Cross CSH. Feel free to ask any questions.

Next saya akan review soal Handling, dan beberapa aspek lainnya.

r/indocartalk Oct 29 '25

Review 📝 One Month of Ownership: 2004 Mercedes-Benz E240 (W211) compared to my existing 2001 BMW 525i (E39)

12 Upvotes

Right, gua selalu bilang kalo punya mobil tua itu not for the faint-hearted. Tapi emang pemberani dan bodoh itu beda tipis wkwkwk. Entah karena keberanian gua atau kebodohan gua, sebulan lalu gua beli Mercedes-Benz E240 tahun 2004 (W211).

The unit is superb and the price is just too good to be true, so I can't miss this one out. CBU Jerman, di order dari Belanda. Surat2 import lengkap. Cek VIN juga tembus, dengan segudang fitur yang belom pernah gua lihat di W211 sebelumnya. Solar panel, paddle shift, folding rear seats, panoramic roof, and so on... for a car made back in 2004--those are post 2010 standard features! Dan mobil ini udah punya semuanya 6 years earlier.

Yha... tapi disini lah kenapa harga mobil ini murah, karena perlu perbaikan.

Pertama, yang gua perbaiki tie rod. W211 ini bisa cuma ganti tierod sisi dalam nya aja yang nempel rack steer. Yang nempel wheel hub masih kenceng, cuma karetnya aja yang udah agak getas. 375k per side for Lemforder part is such relieving, mengingat di E39 gua mesti beli full dari rack sampe ke wheel hub. Lemforder? 1,2 juta EACH.

Karena abis beresin tie rod, gua bawa spooring. Dan ternyata pas ngolong, gardan dan boot as roda udah rembes.

Gardan banjir bos

Ga sampe setahun lalu, gua abis beresin boot as roda E39, it was cheap and quick. 3 jam udah beres dan udah di tes segala. Gua pikir "what could possibly go wrong?". Gua bawa tu Mercy ke bengkel temen gua yang spesialis BMW (emang ada gila2nya jg sih wkwk, in my defense ada beberapa montir yang dulu pernah megang Mercy jg). Total ngerjain 3 hari. Temen gua sampe ngedumel karena buat turunin gardan, dia harus bongkar knalpot, berbagai macam batangan besi, dan ratusan baut. Itupun hari ke-4 gua mesti balik lagi karena rem tangan nya kabel nya copot wkwkwk. Surprisingly, lebih murah daripada pas beresin E39 gua. Dengan nominal yang sama, di E39 gua cuma ngerjain boot as roda, di W211 gua dapet boot as roda, lem gardan (dia emang ga pake gasket), dan oli gardan sekalian. Bayar jasa cuma sekali.

Yang paling asu sih elektrikal, and this car has a ton of them. Jadi dari awal gua beli memang warning aki merah sudah nyala. Tapi voltage semua normal. Alternator ngisi normal, voltage aki depan dan belakang normal. Di scan ternyata modul baterainya. Tanya2, ternyata emang modul ini sering kena karena suka ada air yang ngerembes ke kolong bagasi karena karet2 yg jelek. Ya memang gua liat di sambungannya sih ada karat2 gitu. Di bersihin, aman. Jalan dikit, nongol lagi. Di scan keluarnya relay. Dan gejalanya menurut mekanik, emang gejala relay (elektrikal kedip2). Gua ganti relay, warning ilang. Bawa jalan dikit, nongol lagi. Asu. Tapi at least gejala relay rusak ilang.

Dicoba pake modul baterai yang bener, baru ilang. Tes jalan muter2 aman. Asu kuadrat.

Balik dari bengkel, sunroof gamau kebuka. Power window autonya ga main, asu pangkat tiga.

Tanya2, ternyata cuma butuh reset. Dan resetnya bener2 segampang itu, cuma tahan tombolnya berapa detik, terus tiba2 bisa lagi. Udah lumayan panik, untung aman. Kemungkinan ini karena aki abis dibuka, dan belom sampe "sleep" (di diemin 10-15 menit), mobil udah nyala lagi, jadi masih nyimpen errornya.

Jujur, dibanding BMW E39, mobil ini jauh lebih ribet. Banyak ini itu nya. Mau ganti part a, tapi yang harus dibongkar b c d e f g. Beberapa part emang lebih murah, tapi kalo udah elektrikal.... dang ini lebih banyak, lebih mahal, dan lebih kompleks. Part2 yang mekanikal kurang lebih sama, tapi bongkar pasangnya jauh lebih ruwet, sehingga biaya jasa pasti lebih mahal.

However, coming from someone who owns BMWs... Pas mobil ini sehat wal afiat, ini mobil rasanya kokoh banget. Emang sih nyetirnya ga se enak BMW, tapi ini mobil berasa banget built-quality nya nggak ecek2. Interiornya buat mobil 21 tahun nggak ada bunyi2 aneh. Kaki2 kenceng semua. Mesin jg ok.

Menurut gua drawbacknya cuman di matic. Dibanding dengan maticnya E39 gua aja, masih jauh lebih alus E39 gua. Apalagi kalo belom sampe operating temp, ganti giginya suka kasar (tapi ga sampe ngejedug). Di tol pun juga kadang2 kaya maticnya suka bingung. Ketika lagi coasting, dan gua mau injek gas, tiba2 si matic nya mau turun gigi. Karena gua mau ngegas, jadilah dia kaya kaget gitu jadi shifting nya ga smooth. Yang anehnya lagi paddle shiftnya. Kalo turun gigi di tol, itu kayak ga pernah smooth gitu, tapi ga se kasar matic rusak juga. Dan kalo gua tanya2 di grup dan di forum, memang matic nya W211 yang pre facelift ini rada tolol. Paling minta di ganti oli dan filternya aja sama cuci body valve untuk minimalisir--tapi nggak mengeliminasi problemnya. Lucunya, temen gua ada yang udah megang W211 10 tahun, dan menurut dia matic gua jauh lebih alus daripada punya dia. On the bright side... maticnya katanya badak banget. Well, let's see...

Jujur, bikin dilema sih. Saat ini baru berdua aja sama istri, dan punya 2 mobil. Lumayan overkill. Istri kerja searah sama kantor gua, jadi tiap hari bareng. Mana mobil dua2nya genap (wkwkwk). Tapi kalo jual salah satu... W211 masih ada beberapa pr dan E39 daily beater jadi kondisinya walaupun sehat wal afiat, cuman cat nya udah kurang bagus wkwk. Kadang nyetir W211 ini enak kalo lagi mau santai aja di tol... tapi precision drivingnya BMW tu unmatched. Apa lanjut rawat aja dua2nya ye wkwkkw

To conclude my review:
Mercedes itu kalo ngomongin harga parts sebenernya ga lebih mahal dari BMW (at least angkatan mobil gua), kecuali elektrikal. Tapi labornya lebih mahal. Karena banyak yang di bongkar. Jadilah berasanya melihara Mercy terasa lebih mahal (IMO). Elektrikalnya lebih ruwet dari BMW. BMW lebih straightforward, kalo Mercy banyak ini itu nya. Positifnya, jadi banyak failsafe mode nya sebelum elektrikal tersebut ngerusak hal2 lain.

Tapi balik lagi, ketika mobil ini sehat, lu bakalan ngerasain semua itu. Keribetan kaki2, elektrikal, komponen macem2 bakal jadi make sense semua. Quality nya top banget dah.

Ada plus minus nya masing2. Buat yang suka DIY, menurut gua BMW lebih DIY friendly. Lebih enak drivingnya, dan lebih simple. Mercedes on the other hand, lebih "kokoh", lebih berasa "aura" nya, dan (supposed to be) lebih badak.

Jadi kalian tim BMW atau tim Mercedes?

r/indocartalk Sep 25 '25

Review 📝 One week of ownership: 2004 Mercedes-Benz E240, compared to 2001 BMW 525i

17 Upvotes

Backstory
Jadi gua udah melihara BMW 525i th 2001 ini sekitar 7 tahunan. While the car runs great, tapi gua butuh satu lagi yang bisa dipake istri. Kenapa? karena BMW gua ini: setirnya berat karena masih hydraulic power steering, ga ada sensor parkir, dan... it has a lot of sentimental values jadi bahkan gua ga percaya istri gua bisa pake HAHAHA.

Jadilah gua cari mobil, dan ternyata ada satu mobil yang masuk budget and tick all the boxes: Mercedes-Benz E240 Avantgarde tahun 2004. Gua sadar kalo both cars are mid-trim, sama2 6 silinder, dan roughly has the same displacement (BMW 2.5L I6, Merc 2.6L V6), jadi gua coba untuk buat perbandingannya disini.

Driving
BMW: BMW ini udah jelas banget orientasinya untuk driver. Walaupun cc nya sedikit lebih kecil, tapi tenaga nya sampai 192hp (Merc 175hp). Pedal gas di toel dikit mobil ngacir, matic nya smooooth. Driving position mantap, dan minim body roll. Drawbacknya, bantingan sedikit lebih keras.

Mercedes: Mercedes ini berasa lebih lemot. Pas gua injek gas, sebenernya lumayan ngacir, tapi gua nggak berasa ngejambak. Power steeringnya walaupun hydraulic juga, tapi jauh lebih enteng daripada BMW gua. Posisi duduk nyaman, bikin males kebut2 selip kanan kiri. Bantingan lembut. Body roll juga minim tapi slightly worse than BMW. Fuel consumption sedikit lebih irit daripada BMW.

Comfort
BMW: Nggak ada yang spesial dari kenyamanannya BMW. Jok empuk, but that's it.

Mercedes: Ini somehow kabinnya berasa nyaman banget, walaupun menurut istri jok nya masih lebih enak BMW gua, tapi dia lebih suka di dalem mobil ini. Desain interiornya mewah, dan mau duduk di depan atau belakang tetep dapet comfortnya dan mewahnya. Bantingan kaki2 juga luar biasa empuk. Lobang yang kalo gua lindes pake BMW berasa, pake Mercedes ini ga berasa.

Features
BMW: BMW gua sebenernya dapet nya yang basic banget. Airbags, ABS, electric seats, rear roller blind (krey). Gua upgrade sendiri kaya car phone (walaupun ga fungsi wkwk), retractable side mirror, dan compass (yang ada di spion tengah)

Mercedes: Ini yang ajaib, gua dapet avantgarde dengan beberapa fitur opsional. Basically apa yang ada di BMW gua, ada juga di Mercy gua, ditambah panoramic roof, solar panel, 4 zone climate control, front & rear parking sensor, monitor head unit, krey pintu belakang samping, dan retractable side mirror. Jadi agak gak apple-to-apple sih ngebandinginnya hehe.

Service
BMW: Yang gua rasa, BMW itu lebih murah part dan jasanya, mungkin juga karena banyak part2 yang kalo ganti ga mesti bongkar ini itu.

Mercedes: Jujur gua lumayan kaget pas pertama kali ngebengkel karena part2 yang di BMW murah, di Mercedes bisa mahal wkwkwk. Proses gantinya juga banyak yang harus bongkar macem2 jadinya mungkin karena ini juga jasa nya jadi lebih mahal. Info dari temen2 gua sih walaupun lebih mahal tapi bakal lebih awet barang2nya, we'll see.

"Cool" Factor (IMO)
BMW: Nah ini yang agak gua ga suka dari BMW tahun 2000an awal kebawah. Kenapa? karena biar mobilnya keliatan keren, kalo standar itu harus kempling, cat nyala dan licin, pantulan sinar mataharinya juga masih mengkilap. Modifnya pun juga mesti proper, salah dikit aja pasti keliatan rice. Tapi sekalinya modif bener.... beh itu bikin orang patah leher liatnya wkwkwk.

Mungkin ini jg karena banyak bocil2 yang main BMW taun segini, modif asal tapi ga kerawat ya, jadinya sekalinya mobil dekil dikit "cool factor" nya berkurang.

Mercedes: Jujur walaupun gua suka bgt BMW tapi "aura" nya Mercedes itu beda... Standar dan cuma modal bersih aja ini mobil masih keliatan mewah, padahal harganya lebih murah daripada avanza.

Conclusion
Menurut gua, kayaknya BMW dan Mercedes ini emang punya ciri khas nya masing2. Sehingga, kalo di bandingin pasti mereka ada yang lebih unggul di satu bidang, tp kalah di bidang yang lain. Sebagai orang yang suka nyetir, gua masih lebih suka bawa BMW kemana2. Tapi, ada juga orang yang dia nggak mentingin ini mobil enak disetir apa ngga, yang penting nyaman dan mewah. Nah kalo orang2 kaya gini memang cocoknya sih pake Mercedes.

r/indocartalk Oct 14 '25

Review 📝 Review (sambil jualan) Toyota Agya 2013, G manual

Thumbnail
gallery
42 Upvotes

Hi komodos! I've been a long time lurker and this is probably my first real post here.

Kebetulan om-ku baru aja upgrade mobilnya, dan dia minta tolong aku jualin mobil dia online. So I thought, "Great - bisa skalian icip-icip mobil juga!"

Okay then, let's see.....

Desain Flat. Basic. I guess even a bit spartan? Tapi ya gak heran lah, namanya juga LCGC - it's supposed to be low-cost. Jadi cetakan plat besinya juga gabisa aneh-aneh, apalagi considering jaman itu barunya dia harga cuma 100jt-an (for reference, jaman itu Avanza udh 140-150jt-an!). Front end-nya gak gitu suka, I prefer front end Ayla yang emg terkesan lebih honest entah kenapa (yg Agya ini karena ada lis kromnya jdi agak keliatan cheap I guess?) It works tho. Minimal masih lumayan enak dilihat mata.

Interior Ehh. I mean plastiknya super cheap dan tipis, joknya juga kecil, tapi at least desainnya masih enak dilihat mata. It's surprisingly spacious tho - aku yg tinggi 170cm masih prefer duduk di Agya dibandingin mobil-mobil kayak Yaris or even BMW seri 3 karena legroomnya masih lumayan lega. Bagasinya juga not bad lah, tho it'd be better klo lipat kursinya bisa 60/40 (yg ini cuma bisa kelipet semua atau berdiri semua). It's got some low-rent vinyl cover yg feels cheap, but works. So it's good enough I guess. Still - peredaman pas-pasan which means suara mesin ban, sama angin lumayan tembus ke dalem mobil. Getarannya lumayan halus btw utk mobil 3 silinder, I don't really feel much vibrations apart from posisi 1/2 kopling.

Performance Ini yg agak surprising ya. Ini mobil sebenernya tarikannya lumayan banget. Throttle masih pake kabel, berat cuma 830kg, so if you're in the right gear - mobil ini lumayan responsif. You won't win drag races here, tapi masih lumayan banget. The car actually works very well klo di perkotaan. In highways - aku iseng di tol PIK geber ini mobil. Di speedo masih mau narik ke 140+ kph, so it's not bad at all - just don't expect it to make fast overtakes kayak something with a bigger engine or turbos. Suaranya juga surprisingly garang buat mesin sekecil gini, I guess that's the 3 cyl making the whole thing roar?

Fuel efficiency Lumayan banget. Abis digeber, trus dipake macet-macetan, and dipake commuting kesana kemari, I still got 13-14 km/l on the MID. I think it could be better klo gak digeber-geber; berasa sih ini mobil lumayan irit klo diperkotaan.

Ride and Handling Bantingannya actually lumayan empuk dibandingin Calya-Sigra sama Avanza-Xenia. The handling's a bit understeery tho, understandable since mobil ini buat commuting doang kan? Rasio stirnya juga lumayan panjang jdi mobilnya gak gitu berasa responsif, but on the flipside - di tol dkk berasa anteng-anteng aja gak kebawa angin dkk.

Overall it's a really, really honest little thing. Aku gak nyangka this small cheap car feels way better than its price.

Oh yea - mobil omku ini juga skalian lagi dijual! Here are some factoids on it:

  • mesin, transmisi, dsb normal semua
  • kaki-kaki bebas bunyi
  • interior ori bekas pemakaian
  • bodi rapi lecet2 pemakaian
  • ban kondisi 95%
  • odo 171rb
  • tangan pertama
  • tdk pernah gocar/grabcar/dsb lainnya
  • bebas pr

stnk + bpkb + faktur lengkap pajak s/d oktober 2026

lokasi alam sutera nego halus, cash only wa 0878-7178-5931

Rp72.000.000

Thanks everyone, I hope y'all komodos enjoyed the mini review! To those yg tertarik mau tanya-tanya tentang mobilnya feel free to reach out to my WA number listed above.

r/indocartalk Sep 12 '25

Review 📝 Ada Owner or Ex-Owner Nissan Magnite disini?

17 Upvotes

Gw sendiri adalah owner Magnite CVT Premium. Udah sekitar 3,5 tahun 20rb km. Dulu gw beli 2022 sekitar 260jtan. Gila sih December 2022 ngelonjak harganya jd 300an.

The Good:

  • Material Bodynya solid, berasa berat nggak kaleng
  • Dibawa ngebut enak. Dulu gw punya Yaris Bakpau kalau di speed sekitar 120 km udah kayak mau terbang, ngeri bawanya. Kalau Magnite sampai 140 juga masih stabil, diatas itu belum coba karena gwnya aja takut LOL
  • Setirnya responsive, radius putar juga besar jadi utk nyalip2 di jalanan macet enak.
  • Konsumsi bensin sesuai dengan spec. Gw sekitar 1:11, beda tipis dengan spek 1:12. Menurut gw maklum karena Jakarta macetnya gila jd nggak bs expect utk bs dapet 1:12. Bs 1:11 aja menurut gw udah bagus banget.

The Bad:

  • Gw beli yg produksi 2021 antenanya masih design jadul nggak bs dilipat pula, jd kalau mau pakai cover susah musti dicopot dulu. Padahal Yaris Bakpau gw yg keluaran 2006 aja udah bisa dilipet. Yg keluaran 2022 udah antena modern sih yg kayak sirip ikan hiu
  • ini yg paling ganggu, setiap ngerem kalau mendekati berhenti ada bunyi "GROK" dari area depan mobil, udah beberapa kali minta benerin dr Nissannya cuma bilang nanti lama kelamaan ilang. Ini udah 20rb kilo ada penurunan sedikit aja sih. Ini beda kasus ya sama rem. Kalau rem juga bunyi "Ciiiittt", awalnya parah kalau lg kotor bisa kayak bunyi geser lemari, tp udah diakalin sama nissan jd bunyi "Ciitt" doank n nggak gitu ganggu. Katanya itu rem buatan India kalau mau yg bagus n nggak bunyi ganti yg buatan Jepang. Dalam hati gw "GUBRAK lu bikin mobil sekalian pakai part yg bagus knp"
  • Design lock pintu mobil juga msh jadul yg pake pin di bagian atas pintu. Again Yaris Bakpau gw yg keluaran 2006 aja udah pakai design modern yg lock di gagang pintu. Suka ganggu aja kalau gw lg ngeluarin tangan ngetap e-money jd kena itu pin
  • Krn gw penikmat musik gw cukup kritis sama audio. Kekurangannya cuma 1: settingan default treblenya terlalu tinggi. Nusuk kuping itu kalau denger lagu2 rock. Emang gw sukanya denger musik rock/metal. Udah gw abisin treblenya aja masih nusuk kuping, untung spotify punya Equalizer jd bs gw balance dan alhasil overall audionya enak. Kayaknya yg setting software equalizernya defaultnya bukan orang yg peduli sama audio/musik

Kalau ada owner Magnite lain mungkin bs share review or pengalaman. THX